Blog Artikel

Belajar dari Jepang: Pemanfaatan Karakter Maskot bagi Pengembangan Daerah

Mendengar kata karakter mungkin kita hanya akan ingat pada tokoh-tokoh yang ada di kisah fiksi. Karakter memang menjadi elemen dalam berbagai kisah fiksi baik di komik maupun animasi. Namun apakah sebuah karakter hanya bisa eksis dalam komik saja? Apakah sebuah karakter hanya digunakan dalam kisah fiksi saja? Karakter bisa juga hadir di luar ranah komik. Bahkan sebuah kota bisa juga memiliki karakternya sendiri dan menjadi personifikasi dari kota tersebut.

Berbicara mengenai karakter, Jepang adalah salah satu negara yang memiliki banyak karakter dan bahkan meraup keuntungan dari karakter-karakter tersebut. Selain terkenal akan beberapa karakternya yang muncul sebagai tokoh dalam komik maupun animasi, Jepang juga dikenal dengan beberapa karakter maskot dari tiap-tiap kota dan daerah yang ada. Salah satu maskot yang cukup terkenal adalah sosok beruang hitam Kumamon, yang merupakan maskot dari wilayah Prefektur Kumamoto.

Di Jepang sendiri para karakter maskot daerah ini disebut sebagai Yuru-Chara. Istilah ini merupakan singkatan dari kata Yurui Mascott Character (ゆるいマスコットキャラクター). Kata sifat Yurui (緩い) memiliki arti “goyah” namun dalam hal ini, Yurui bisa diartikan sebagai “lembut”, “lemah”, atau bahkan “tidak terlalu penting”. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh kritikus budaya yang sekaligus seorang illustrator, Jun Miura. Yuru-Chara bisa memiliki artian bahwa karakter tersebut digambarkan lemah, lembut, namun memiliki sisi imut (kawaii). Istilah ini bisa juga merujuk bahwa beberapa maskot daerah di Jepang memang ada yang didesain seadanya oleh para amatir. Pihak JNTO (Japan National Tourism Organization) menyatakan bahwa Yuru-Chara adalah “maskot kartun dengan gaya anime yang melambangkan berbagai prefektur yang ada di seluruh Jepang.”

Namun meski memiliki kata sifat lemah dalam namanya, pada kenyataannya Yuru-Chara ternyata menjadi sebuah kekuatan sendiri di Jepang. Tercatat ada sekitar lebih dari 1500 karakter Yuru-Chara di Jepang. Karakter-karakter maskot ini juga hadir tidak hanya sebagai perlambangan dari sebuah wilayah saja namun juga menyumbang pendapatan daerah dengan nilai yang cukup fantastis. Maskot Prefektur Kumamoto, Kumamon tercatat telah meraup untung sebanyak 124.4 Milyar Yen (sekitar hampir 15 Trilyun Rupiah). Berbagai maskot seperti Kumamon dan Funassyi bahkan sudah menjadi selebritis ternama di seantero Jepang.

Karakter juga ternyata bisa memiliki potensi dalam pengembangan sebuah daerah. Salah satu yang jelas terlihat adalah bagaimana para Yuru-Chara yang terkenal ini  mempromosikan turisme lokal. Sebelum adanya Kumamon, Kumamoto hanya dikenal sebagai wilayah dengan gunung api aktif dan komoditas pertaniannya. Namun pada bulan Maret lalu, dalam peringatan hari ulang tahun Kumamon, banyak turis yang datang hanya untuk merayakan festival ulang tahun dari maskot ini. Kehadiran Kumamon di berbagai iklan, surat kabar, dan stasiun tv nasional juga turut serta mempromosikan wilayah Kumamoto.

Di stasiun Kumamoto dan juga seantero prefektur ini dengan mudah ditemui banyak toko yang menjual pernik dari karakter Kumamon. Tidak hanya pernik, Kumamon bahkan memiliki DVD sendiri dan juga stiker set dalam aplikasi perpesanan instan Line. Yang paling spektakuler dari merhandise Kumamon adalah, sebuah patung emas murni Kumamon seharga 100 juta Yen (sekitar 12 Milyar Rupiah). Selain menarik wisatawan, Kumamon juga bisa menyumbang pendapatan daerah dengan penjualan pernik dan suvenir. Pada saat tragedi gempa yang mengguncang Kumamoto, media sosial justru diramaikan dengan ucapan simpatik kepada sosok Kumamon.

Namun potensi dari karakter maskot dalam pengembangan daerah tidak hanya secara finansial saja. Tidak jarang ada berbagai karakter yang digunakan untuk menyampaikan berbagai kebijakan pemerintah maupun pihak berwajib kepada publik. Seperti halnya karakter Pipo yang merupakan maskot dari Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo. Pipo merupakan maskot yang digunakan oleh kepolisian Tokyo untuk memberikan himbauna terkait peraturan daerah yang berlaku. Selain kepolisian, Agensi Penanganan Kebakaran dan Bencana Jepang juga memiliki maskot bernama Kyuta. Seperti halnya Pipo, Kyuta merupakan maskot yang digunakan untuk memberikan berbagai himbauan seperti papan informasi evakuasi bangunan jika terjadi kebakaran dengan gambar sosok Kyuta disana. Para karakter Maskot ini bisa menjadi sarana komunikasi antara pemerintah dan pihak berwajib dengan masyarakat agar terjalin hubungan yang erat.

Pipo-Kun, maskot kepolisian metro Tokyo

 

Kyuta, maskot pemadam kebakaran.

 

Selain Kumamon, Pipo serta Kyuta, masih banyak juga karakter-karakter maskot lain yang dimiliki Jepang. Ada juga Funassyi, karakter periang dengan warna kuning yang cerah. Karakter ini berasal dari daerah Funabashi, Chiba. Funassyi telah mencatat penghasilan sebesar 200 juta Yen (sekitar 24 Milyar Rupiah). Meskipun penghasilannya tidak sedikit namun hingga sekarang Funassyi belum diangkat menjadi maskot resmi oleh pemerintah setempat.

 

Hikonyan merupakan maskot lain yang juga memiliki penghasilan fantastis. Karakter maskot kucing yang mengenakan helm Samurai ini memiliki penghasilan sebesar 1.7 Milyar Yen (sekitar 204 Milyar Rupiah). Hikonyan merupakan maskot yang pertama kali diluncurkan dalam peringatan 400 tahun berdirinya kastil Hikone. Menariknya meskipun pertama diluncurkan hanya untuk perayaan 400 tahun berdirinya kastil Hikone, namun Hikonyan masih cukup populer yang membuatnya menjadi maskot daerah tersebut.

Diantara para karakter maskot yang memiliki bentuk hewan maupun makhluk lain, ternyata ada juga maskot berbentuk manusia yang cukup terkenal di Jepang. Lerch-san merupakan karakter maskot yang ada di Prefektur Niigata. Dikisahkan bahwa Lerch-san merupakan maskot kelahiran Pressburg yang kini mempromosikan mengenai wisata musim dingin khususnya ski.

Masih banyak lagi karakter-karakter maskot yang ada di Jepang dengan berbagai keunikannya masing-masing. Bahkan wilayah Osaka sendiri memiliki karakter maskot dengan jumlah sekitar 45 maskot. Di Jepang sendiri bahkan setiap tahun diadakan sebuah pertandingan nasional antar para maskot ini. Sejak tahun 2010, kontes Yuru-chara Grand Prix digelar. Tercatat lebih dari 1700 maskot mengikuti ajang ini di tahun 2015 lalu.

Selain menjadi maskot perwakilan suatu daerah, penggunaan karakter maskot ini memiliki banyak potensi dari segi pariwisata, promosi, ekonomi kreatif dan juga kebijakan publik. Apakah hal ini bisa juga diterapkan di Indonesia? Indonesia merupakan negeri kepulauan dengan keragaman budaya-budaya daerah. Masing-masing daerah memiliki berbagai kekhasannya tersendiri yang bisa dikemas menjadi ikon maskot.

Salah satu kota di Indonesia yang memiliki sosok karakter sebagai ikon kotanya adalah Surabaya. Sosok Sura (Ikan Hiu) dan Baya (Buaya) ini adalah karakter yang memang ada dalam legenda kota tersebut. Di tahun 2015 telah diselenggarakan ajang Kinetic. Kinetic merupakan sebuah kompetisi untuk merancang ulang maskot kota Surabaya. Pada kompetisi ini 54 peserta ikut serta dengan 1660 suara vote terkumpul dalam 4 hari. Kompetisi ini dimenangkan oleh karakter Cak Sura dan Cak Baya karya Agung Rangga Lawe dari Bandung.

Selain itu baru-baru ini pemerintah Kota Malang juga merilis maskotnya yakni Osi dan Ji. penamaan Osi untuk maskot singa berasal dari bahasa walikan (bahasa khas Malangan) yang berarti ‘iso’. Dalam bahasa Indonesia, kata itu berarti ‘bisa’. Sedangkan penamaan Ji pada burung manyar berarti ‘siji’ alias ‘satu’.

Dengan berbagai potensi yang dimiliki, langkah ini bisa juga diterapkan oleh daerah-daerah lain. Penggunaan karakter maskot ini bisa jadi sebuah alternatif dalam pengembangan suatu daerah baik dalam hal pariwisata, ekonomi kreatif, maupun kebijakan publik.

Referensi:

http://us.jnto.go.jp

http://www.fluentu.com

http://theguardian.com

Tags: , ,