Blog News

PIONICON Berpartisipasi dalam Pembentukan Asosiasi Komik Indonesia

Di tengah ketatnya persaingan global, ekonomi kreatif menjadi salah satu fokus penting dalam rencana pertumbuhan industri di Indonesia. Besarnya potensi yang dimiliki oleh insan kreatif di seluruh negeri meyakinkan pemerintah bahwa ekonomi kreatif bisa menjadi tulang punggung bagi perekonomian Indonesia. Dari berbagai banyaknya karya kreatif yang menunjukkan eksistensinya di kancah nasional maupun internasional, komik Indonesia juga kini berkontribusi besar bagi perkembangan ekonomi kreatif Indonesia.

Saat ini, 13 juta orang membaca Komik Indonesia setiap harinya lewat ponsel, tiga kali sehari, saat makan siang, sore pulang kerja/aktivitas dan jelang tidur. Lebih dari 100 judul komik Indonesia rilis mingguan setiap hari sepanjang tahun di berbagai aplikasi komik dan media sosial. Pertumbuhan ini diperkirakan bisa mencapai hingga 20% populasi Indonsia di tahun 2025, khususnya pada demografi pembaca usia 15-35 tahun.

Komik Indonesia juga kini mampu menunjukkan eksistensinya dengan beradaptasi dan berkolaborasi dengan media. Seperti halnya Si Juki, salah satu karakter fiksi dari PIONICON yang telah hadir di berbagai macam media. Pada tahun 2017 Si Juki diadaptasi menjadi film animasi yang berhasil mencetak rekor Box Office Animasi Indonesia dengan perolehan 700.000 penonton.

Menyambut cepatnya pertumbuhan industri komik di Indonesia, beberapa komikus dan perusahaan yang bergerak di bidang komik Indonesia berinisiatif membentuk AKSI (Asosiasi Komik Indonesia). Asosiasi ini didirikan oleh para pengelola Intellectual Property di Indonesia yang berfokus pada media komik; PIONICON sebagai perusahaan pengelola karakter berbasis IP turut serta aktif menjadi bagian dari AKSI. Bersama dengan perusahaan lain, PIONICON menjadi salah satu perusahaan yang membentuk dan mendeklarasikan asosiasi ini. Faza Meonk, kreator dari karakter Si Juki menjadi Ketua Umum dari AKSI.

Perusahaan lain yang terlibat dalam pembentukan asosiasi ini adalah Bumilangit (pemilik IP karakter2 komik lokal legendaris seperti Si Buta, Gundala, Godam, dll), Octopus Garden (Mice Cartoon), Infia (Komikin Ajah), FranKKomiK (Setan Jalanan), Skylar Comics (Volt & Valentine), Ciayo Comics (Heartbeat & Blue Serenade), re:ON Comics (Grand Legend Ramayana & Galauman), Kosmik (Manungsa & Wanoja) dan Padma Pusaka Nusantara (Nusa Five).

Seperti halnya perjalanan komik Indonesia sendiri, pembentukan asosiasi ini juga menempuh jalan yang panjang. Gagasan awal pencetusan asosiasi komik Indonesia sudah ada sejak tahun 2014. Pada saat itu sejumlah pegiat komik, animasi, dan game mencetuskan gagasan pembentukan asosiasi. Wacana pun digulirkan hingga akhirnya pada tanggal 24 April 2018 Asosiasi Komik Indonesia (AKSI) dideklarasikan.

Pendeklarasian Asosiasi Komik Indonesia dilangsungkan di Swillhouse, SCBD, Jakarta Selatan. Deklarasi AKSI ini dihadiri oleh para pelaku di industri komik seperti Faza Meonk, Franki Indrasmoro S, Marcelino Lefrandt, Mice Misrad, Sweta Kartika, dan sejumlah komikus lainnya. Triawan Munaf selaku kepala dari BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) juga turut hadir dalam pendeklarasian asosiasi ini.

Asosiasi Komik Indonesia ini didirikan dengan visi untuk menjadikan industri komik Indonesia sebagai bagian dari Strategi Budaya Nasional di Ranah Internasional. Misi dari Asosiasi ini sendiri adalah untuk membangun ekosistem Industri Komik Indonesia.

Menurut Faza, komik bisa menjadi media untuk mempromosikan kebudayaan suatu negara. Seperti halnya komik Jepang yang membuat banyak orang mengenal sushi. Komik Indonesia juga bisa menjadi sarana untuk mengenalkan kearifan budaya Indonesia ke mata dunia.

“Dengan terbentuknya asosiasi ini, harapannya semoga kita bisa membangun ekosistem industri komik Indonesia bisa lebih maju lagi, lebih berkembang, dan bisa bersinergi dengan berbagai macam industri.” Ujar Faza Meonk, ketua umum AKSI.

“Sinergi dari berbagai sub-sektor di ekonomi kreatif ini akan memperkuat kita semua, dan komik menjadi hulu dari semua itu.” Ujar Triawan Munaf.

Faza Meonk selaku Ketua Umum AKSI dan Imansyah Lubis selaku Sekretariat Jendral AKSI mengakui bahwa dalam beberapa tahun ini komik Indonesia berhasil berkolaborasi dengan berbagai bentuk media hiburan lain. Pada tahun 2017 dunia perfilman tanah air diwarnai dengan 2 film yang diadaptasi dari komik, Valentine dan Si Juki the Movie. Tidak hanya itu saja, saat ini kolaborasi antara komik dengan game, seni pertunjukan, hingga musik sudah banyak dilakukan.

“Komik (Indonesia) adalah hulu dari semua itu (ekonomi kreatif). Komik adalah pembentukan karakter pertama yang melahirkan karakter-karakter yang hadir di berbagai cerita. Jadi, memang cerita dibangun dari komik.” Tambah Triawan Munaf dalam pemaparannya.

Tags: ,